BERITA  

OPINI Konawe Utara: BASMALAKU, Menjaga Tanah Leluhur, Membela Keadilan, Merawat Masa Depan. Oleh: Feryanto, (Kordinator BASMALAKU) 

OPINI Konawe Utara: BASMALAKU, Menjaga Tanah Leluhur, Membela Keadilan, Merawat Masa Depan. Oleh: Feryanto, (Kordinator BASMALAKU) 
OPINI Konawe Utara: BASMALAKU, Menjaga Tanah Leluhur, Membela Keadilan, Merawat Masa Depan.
Oleh: Feryanto, (Kordinator BASMALAKU)

Konawe Utara – Barisan Solidaritas Masyarakat Lingkar Tambang Konawe Utara (BASMALAKU) lahir bukan semata sebagai Perhimpunan biasa, tetapi sebagai panggilan sejarah, sebuah kesadaran kolektif untuk menjaga dan membela nilai kearifan lokal Konawe Utara yang menyimpan jejak peradaban manusia dari lintas suku dan budaya, serta kekayaan alam yang telah diwariskan oleh lintas generasi.

Sejak dahulu, Bumi Oheo Konawe Utara bukanlah ruang kosong. Ia adalah ruang hidup yang telah ditapaki oleh para leluhur bangsawan, tokoh masyarakat adat dari berbagi kesukuan sejak dari ratusan tahun yang lalu. Dengan nilai-nilai kebersamaan yang kokoh, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam , budaya, hingga saat ini secara geografis Bumi Oheo Konawe Utara tetap bertahan eksis meski tengah menghadapi sebuah ancaman serius deforestasi.

Meski demikian nilai kearifan lokal di bumi Konawe Utara saat ini tetap terjaga dan tidak bisa di pisahkan meski dengan hadir nya ratusan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) yang menutupi permukaan bumi Konawe Utara.

Konawe Utara bukan sekadar Daerah objek eksploitasi sumber daya alam pertambangan, melainkan bagian dari identitas kearifan lokal sultra, yang menyimpan banyak sumber kekayaan alam hingga budaya dan adat istiadat,serta sumber daya air mineral yang telah membentang menjadi sungai lasolo dan lalindu. Namun demikian kondisinya saat ini telah rusak tercemar dari limbah pertambangan.

Ditengah arus perubahan dan pembangunan investasi nilai-nilai kearifan lokal di bumi Oheo Konawe Utara pelan-pelan ingin di lenyapkan identitas nya, hingga berpotensi menjadi ancaman serius atas keseimbangan Bumi Oheo Konawe Utara.

Eksploitasi yang tidak terkendali, pengabaian terhadap hak-hak masyarakat lokal, serta melemahnya penghormatan terhadap nilai-nilai budaya di Konawe Utara saat ini menjadi tantangan nyata yang tidak bisa diabaikan oleh Masyarakat pribumi. Di titik inilah, Barisan Solidaritas Masyarakat Lingkar Tambang Konawe Utara mengambil peran berdiri di garis depan sebagai penjaga Nurani, pengawal keadilan, dan penyambung suara rakyat.

“Berjuang dengan nurani adalah ketika kita memilih berdiri di sisi yang benar, meski dunia mengajak kita untuk diam.”

BASMALAKU ini berkomitmen untuk mengembalikan arah kehidupan masyarakat pribumi Konawe Utara dari prinsip hidup yang merdeka artinya Bebas dari ketidakadilan sosial, Bebas dari kemiskinan yang menindas, Bebas dari kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang merugikan rakyat, dan bebas dari ketimpangan.

Masyarakat harus merdeka di Tanah sendiri, berkeadilan, yang tidak berdiam saat sumber daya alam penyangga kehidupan Daerah Konawe Utara di habiskan begitu saja tanpa memberikan dampak pembangunan ekonomi yang merata bagi masyarakat Pribumi Konawe Utara.

Momentum pertama aksi tanggal 10 Desember 2025, oleh Barisan Solidaritas Masyarakat Lingkar Tambang Konawe Utara dalam menyuarakan keadilan di Kantor Kementerian ESDM RI terhadap keadilan pengelolaan sumber daya alam Konawe Utara. Kami tekadkan dalam perjuangan bahwa masa depan Konawe Utara harus dibangun di atas fondasi yang kokoh: penghormatan terhadap budaya, perlindungan terhadap lingkungan, serta keberpihakan kepada pembangunan ekonomi masyarakat lokal.

Melalui semangat persatuan, keberanian, dan tanggung jawab moral, kami bergerak bersama masyarakat untuk menjaga ruang hidup, merawat warisan leluhur, dan memastikan bahwa setiap kebijakan pertambangan yang lahir di Bumi Konawe Utara tidak melukai hak-hak rakyat pribumi.

Bagi kami, perjuangan ini bukan hanya tentang hari ini. Ini adalah ikhtiar panjang untuk memastikan bahwa generasi yang akan datang masih dapat mengenal Konawe Utara sebagai tanah yang hijau, masyarakat yang makmur, dan budaya yang tetap hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *